
Tiba-tiba sore itu penuh cahaya. Setelah sisa terakhir warna senja menggusap kelopak mataku. Aromanya yang teduh merambat pelan di dalam hidung. Semakin dalam kuambil nafas. Dalam dan semakin dalam serta makin lama aku menatap screen jingga di sudut paling barat.
Inikah kematian yang datang? Ataukah perasaan rindu yang dalam di sebuah ruang beku sudut hatiku? Lebih baik aku tidak mempercayai perkataanmu hari ini. Bukannya aku tidak cinta diriku yang lain. Namun, aku hendak meluruskan sayap dan terbang bagaikan Jibril. Tanpa ada yang mengikuti.
Dari atas tampak awan yang mengarak suatu kisah tentang perjalanannya. Satu kisah yang tak pernah kaulupakan ketika menembus ujung waktu di batas dunia. Aku meninggalkan kotamu hari ini. Bersama cinta yang hendak kukepak sendiri dalam ranselku yang baru. Tas warna biru yang kita beli bersama beberapa waktu silam.
Tentunya kamu akan ingat selalu. Tentang senja yang tersenyum di atas atap rumah-rumah kaum girli (pinggir kali), di seberang Code. Kamu diam seribu bahasa, seakan di benakmu sedang bertarung dua kata untuk mengisi kekosongan musim ini. Aku pesankan teh manis panas. Bersama beberapa gorengan yang masih hangat pula. Aku tahu, hari ini terakhir aku berada di dekatmu. Akankah semua menjadi baik-baik lalu biasa-biasa saja?
Daun-daun larut dalam irama sore yang kelabu. Seperti ada perpisahan diam-diam antara bulan dan bintang. Daun-daun kering menjatuhkan diri seperti ingatan masa silam yang tertiup angin, terbang dalam temaram lampu kota.
Bukankah kedatanganku ke kota ini hendak menggenapkan kisahku sendiri? Seperti mencari potongan puzzle dalam gunungan daun dan ilalang kering. Musim begitu singkat bagiku. Cerita tentang laki-laki yang selalu terjerat dalam perjalananku, kubiarkan berjatuhan pada trotoar kota yang panas dan berdebu. Aku ragu, akankah kembali kupunguti cerita-cerita itu?
Kau bawa aku dalam bisu, menembus malam yang sama-sama diam. Hanya suara bising dari knalpot-knalpot kendaraan yang mencoba menyelami kebekuan hati. Aku masih tidak mengerti kenapa kamu diam? Marahkah kamu? Mengapa aku selalu kesulitan menebak kebekuan ini. Tapi aku yakin, sebenarnya kita, aku dan kamu selalu mencoba menerjemahkan cahaya apa yang sedang menyelimuti hati kita. Masih ragukah kamu?
Kita duduk di dekat sungai dengan air yang memantulkan bayangan kita. “Biarkan potret ini hanyut ke tujuh samudera,” batinku. Karena disanalah takdir yang seperti mesin akan mendekatkan jarak kita. Dan udara ini, wangi sore ini, cahaya phirus ini, biarkan menjadi setipis benang ketika kelak aku meninggalkan tempat ini.
Sekarang aku tahu! Kamu hendak meninggalkanku sendirian dalam perahu di danau keraguan? Satu persatu pengemis datang. Awalnya seorang ibu yang tengah hamil. Lalu anak-anak kecil sambil membawa kecrekan. Kauberikan beberapa keping uang logam ke mereka. Apakah aku harus mengemis seperti mereka? Taulah.
Dinding di bandara terasa begitu dingin. Tak kulihat sembab di matamu. Masih keraskah hatimu?
Inikah kerinduan? Ataukah benih-benih keraguan yang mulai membiak di tubuh? Dari atas kupandangi sekali lagi tempat-tempat yang kita kunjungi bersama. Seperti ada kenangan yang tak pernah luntur oleh waktu. Lalu kotamu menjadi semakin kecil dalam lanskap senja. Bersama bayanganmu.
Yogyakarta, senja terakhir di bulan Agustus.


Dalam Al-Qur’an bertuliskan: Katakanlah kepada wanita yang beriman : “ Hendaklah mereka menahan pandangan, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakan perhiasannya, kecuali pada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra suami mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai hasrat terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita, dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertaubatlah kamu sekalian kepada ALLAH, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(24:23)
Dalam ayat diatas dapat kita ketahui hukum yang tegas yang telah di tuliskan dalam Al-Qur’an bahwa seorang wanita muslimah wajib mengenakan penutup kepala atau yang biasa kita sebut dengan jilbab. Jujur sudah dalam sebulan ini saya melepaskan kain penutup kepala yang telah saya kenakan semenjak duduk di bangku SMA. Tepatnya bulan Akhir bulan Juli lalu saya terserang penyakit tipus stadium tiga suhu badan saya sampai pada 40,7 derajat dan hal itu membuat kerontokan yang dahsyat pada rambut. Alhasil dokter menyarankan untuk melepas sementara jilbab untuk mengurangi kerontokan pada rambut selama proses pemulihan.
Hari ini sepanjang jalan saya mengamati banyak sekali seorang wanita yang mengenakan jilbab, berwarna-warni dan dengan berbagai model. Menurut saya seorang wanita yang mengenakan jilbab akan terlihat lebih anggun, cantik, dan dapat lebih menjaga dari orang-orang yang biasa menjadikan wanita sebagai objek pelecehan. Mayoritas kaum muda-mudi yang berintelektual sepakat dengan pendapat saya, lalu bagaimana dengan Anda?
Mengenakan jilbab adalah suatu komitmen terhadap diri sendiri, begitu menurut saya. Di tengah maraknya mode-mode baju yang memamerkan aurat dan berbagai jenis bentuk rambut yang kita contek dari tradisi luar negri adalah suatu tantangan yang berat untuk tetap menjalankan komitmen mengenakan jilbab. Faktanya dapat kita lihat di sepanjang jalan-jalan, patung-patung di Mall, iklan-iklan di televisi atau di media internet sekalipun kita dengan mudah kita lihat berbagai jenis model baju yang terbuka di dada atau yang memamerkan keindahan kaki hingga paha dan kita tentu dengan mudah menjadi tersugesti mengikuti trend mode tersebut. Dengan dalil untuk mengikuti zaman agar kita tidak katro atau ndeso. Bukankah demikian? Hal ini pun menjadi pembelajaran dalam diri saya sendiri yang telah berani melepas jilbab yang menjadi hijab, dan sungguh ada rasa penyesalan yang sangat sehingga kali ini saya merindukan jilbab hijab saya.
Jilbab adalah hal yang paling kentara untuk menunjukan kita adalah seorang wanita muslimah. Namun yang amat saya sesalkan sekarang banyak sekali seseorang yang menjadikan jilbab hanya sebagai kedok atau topeng belaka. Banyak fakta yang mungkin saya atau anda temui dalam kehidupan sehari-hari seorang wanita berjilbab mempunyai kelakuan yang tidak sesuai dengan jilbabnya.
Seperti saat ini sedang menghadapi bulan suci ramadhan banyak wanita-wanita berbondong-bondong mengenakan jilbab namun ketika ramdhan berakhir merekapun serempak melepas jilbab itu kembali menurut alasan mereka adalah untuk sekedar menghormati bulan suci ramadhan saja, mungkin alasan itu logis tapi apakah charisma jilbab hanya untuk di bulan ramadhan saja? Apakah benar jiwa seorang muslimah itu tidak harus di tunjukan dengan adanya jilbab sebagai hijab?
Seorang wanita muslimah yang taat pada agama maka ia akan menggunakan jilbab, begitu menurut para ulama. Namun dapat kita temui sanggahan “Ah, cewek berjilbab belum tentu kelakuannya sesuai dengan jilbabnya?” hal ini sungguh mengusik diri saya sendiri sebagai seorang wanita muslim yang wajib mengenakan jilbab.
Saya pernah bertanya kepada salah seorang ustad yang mengajar ilmu fiqih di sekolah saya “Pak, bagaimana kalau kita temui seorang wanita berjilbab, namun ternyata kelakuannya tidak lebih baik dari seorang wanita yang tidak menggunakan jilbab?” lalu dengan tegas ustad itu menjawab: “Seorang wanita muslimah ia mendapatkan kewajiban untuk mengenakan jilbab, kerena seorang wanita muslimah yang keluar rumah tanpa menggunakan penutup kepala sama saja ia membangun rumahnya di neraka, naudzubillahiminzalik” lalu saya bertanya lagi “Tapi kelakuannya tidak sesuai dengan jilbabnya pak?” dengan bijak guru saya berkata “Masalah perbuatan seseorang di dunia ini biarlah itu menjadi hubungan dan pertanggung jawabannya dengan sang kholik, baik atau buruknya, hitam atau putihnya hanya Dia yang tahu, setiap manusia mempunyai alasan tersendiri mengapa ia berbuat baik atau buruk sekalipun, oleh karena itu kita tidak bisa membanding-bandingkan seseorang apakah perbuatan dia lebih baik atau buruk. Jadi seorang wanita yang menggunakan jilbab sebagai hijabnya sebaiknya jangan mengannggapnya sebagai kewajiban, tapi jadikanlah itu sebagai bukti cinta terhadap sang Kholik untuk menghijabinya dari perbuatan yang dilarang agama, wallohualam?”
Setelah mengkilas balik kejadian di atas saya menjadi malu terhadap diri saya sendiri saat ini karena saya dengan sengaja melepaskan jilbab meski dengan alasan untuk pengobatan sekalipun, karena sekarang saya sadar bahwa di mata ALLAH bukanlah penampilan kita yang menjadi kadar baik buruknya, namun iman kitalah yang di nilai.
Semoga tulisan ini menjadi penggerak bagi pembaca untuk mengenakan jilbab, dan menjadi penyemangat lagi bagi ukhti yang telah mengenakan jilbab amin…
Salam ukhuwah…


